Tuesday, July 21, 2009

Ternyata Processor itu terbuat dari "Pasir" !



Pasir, seperempat bagiannya terbentuk dari silikon, yakni unsur kimia yang paling berlimpah di muka bumi ini setelah oksigen. Pasir (terutama quartz), mempunyai persentase silikon yang tinggi di dalam bentuk Silicon Dioxide (SiO2) dan pasir merupakan bahan pokok untuk memproduksi semiconductor.



Setelah memperoleh mentahan dari pasir dan memisahkan silikonnya, materiil yang kelebihan dibuang. Lalu, silikon dimurnikan secara bertahap hingga mencapai kualitas "semiconductor manufacturing quality", atau biasa disebut "electronic grade silicon". Pemurnian ini menghasilkan sesuatu yang sangat dahsyat dimana "electronic grade silicon" hanya boleh memiliki satu "alien atom" di tiap satu milyar atom silikon. Setelah tahap pemurnian silikon selesai, silikon memasuki fase peleburan. Dari gambar di atas, kita bisa melihat bagaimana kristal yang berukuran besar muncul dari silikon yang dileburkan. Hasilnya adalah kristal tunggal yang disebut "Ingot".



Kristal tunggal "Ingot" ini terbentuk dari "electronic grade silicon". Besar satu buah "Ingot" kira-kira 100 Kilogram atau 220 pounds, dan memiliki tingkat kemurnian silikon hingga 99,9999 persen.



Setelah itu, "Ingot" memasuki tahap pengirisan. "Ingot" di iris tipis hingga menghasilkan "silicon discs", yang disebut dengan "Wafers". Beberapa "Ingot" dapat berdiri hingga 5 kaki. "Ingot" juga memiliki ukuran diameter yang berbeda tergantung seberapa besar ukuran "Wafers" yang diperlukan. CPU jaman sekarang biasanya membutuhkan "Wafers" dengan ukuran 300 mm.



Setelah diiris, "Wafers" dipoles hingga benar-benar mulus sempurna, permukaannya menjadi seperti cermin yang sangat-sangat halus. Kenyataannya, Intel tidak memproduksi sendiri "Ingots" dan "Wafers", melainkan Intel membelinya dari perusahaan "third-party". Processor Intel dengan teknologi 45nm, menggunakan "Wafers" dengan ukuran 300mm (12 inch), sedangkan saat pertama kali Intel membuat Chip, Intel menggunakan "Wafers" dengan ukuran 50mm (2 inch).



Cairan biru seperti yang terlihat pada gambar di atas, adalah "Photo Resist" seperti yang digunakan pada "Film" pada fotografi. "Wafers" diputar dalam tahap ini supaya lapisannya dapat merata halus dan tipis.



Di dalam fase ini, "Photo Resist" disinari cahaya "Ultra Violet". Reaksi kimia yang terjadi dalam proses ini mirip dengan "Film" kamera yang terjadi pada saat kita menekan shutter (Jepret!).

Daerah paling kuat atau tahan di "Wafer" menjadi fleksibel dan rapuh akibat efek dari sinar "Ultra Violet". Pencahayaan menjadi berhasil dengan menggunakan pelindung yang berfungsi seperti stensil. Saat disinari sinar "Ultra Violet", lapisan pelindung membuat pola sirkuit. Di dalam pembuatan Processor, sangat penting dan utama untuk mengulangi proses ini berulang-ulang hingga lapisan-lapisannya berada di atas lapisan bawahnya, begitu seterusnya.

Lensa di tengah berfungsi untuk mengecilkan cahaya menjadi sebuah fokus yang berukuran kecil.



Dari gambar di atas, kita dapat gambaran bagaimana jika satu buah "Transistor" kita lihat dengan mata telanjang. Transistor berfungsi seperti saklar, mengendalikan aliran arus listrik di dalam "Chip" komputer. Peneliti Intel telah mengembangkan transistor menjadi sangat kecil sehingga sekitar 30 juta "Transistor" dapat menancap di ujung "Pin".



Setelah disinari sinar "Ultra Violet", bidang "Photo Resist" benar-benar hancur lebur. Gambar di atas menampakan pola "Photo Resist" yang tercipta dari lapisan pelindung. Pola ini merupakan awal dari "transistors", "interconnects", dan hal yang berhubungan dengan listrik berawal dari sini.



Meskipun bidangnya hancur, lapisan "Photo Resist" masih melindungi materiil "Wafer" sehingga tidak akan tersketsa. Bagian yang tidak terlindungi akan disketsa dengan bahan kimia.



Setelah tersketsa, lapisan "Photo Resist" diangkat dan bentuk yang diinginkan menjadi tampak.



"Photo Resist" kembali digunakan dan disinari dengan sinar "Ultra Violet". "Photo Resist" yang tersinari kemudian dicuci dahulu sebelum melangkah ke tahap selanjutnya, proses pencucian ini dinamakan "Ion Doping", proses dimana partikel ion ditabrakan ke "Wafer", sehingga sifat kimia silikon dirubah, agar CPU dapat mengkontrol arus listrik.



Melalui proses yang dinamakan "Ion Implantation" (bagian dari proses Ion Doping) daerah silikon pada "Wafers" ditembak oleh ion. Ion ditanamkan di silikon supaya merubah daya antar silikon dengan listrik. Ion didorong ke permukaan "Wafer" dengan kecepatan tinggi. Medan listrik melajukan ion dengan kecepatan lebih dari 300,000 Km/jam (sekitar 185,000 mph)



Setelah ion ditanamkan, "Photo Resist" diangkat, dan materiil yang bewarna hijau pada gambar sekarang sudah tertanam "Alien Atoms"



Transistor ini sudah hampir selesai. Tiga lubang telah tersketsa di lapisan isolasi (warna ungu kemerahan) yang berada di atas transistor. Tiga lubang ini akan diisi dengan tembaga, yang berfungsi untuk menghubungkan transistor ini dengan transistor lain.



"Wafers" memasuki tahap "copper sulphate solution" pada tingkat ini. Ion tembaga disimpan ke dalam transistor melalui proses yang dinamakan "Electroplating". Ion tembaga berjalan dari terminal positif (anode) menuju terminal negatif (cathode).



Ion tembaga telah menjadi lapisan tipis di permukaan "Wafers".



Materiil yang kelebihan dihaluskan, meninggalkan lapisan tembaga yang sangat tipis.



Nah udah mulai ribet. Banyak lapisan logam dibuat untuk saling menghubungkan bermacam-macam transistors. Bagaimana rangkaian hubungan ini disambungkan, itu ditentukan oleh teknik arsitektur dan desain tim yang mengembangkan kemampuan masing-masing processor. Dimana chip komputer terlihat sangat datar, sebenarnya memiliki lebih dari 20 lapisan untuk membuat sirkuit yang kompleks. Jika kamu melihat dengan kaca pembesar, kamu akan melihat jaringan bentuk sirkuit yang rumit, dan transistors yang terlihat futuristik, "Multi-Layered Highway System".



Ini hanya contoh super kecil dari "Wafer" yang akan melalui tahap test kemampuan pertama. Di tahapan ini, sebuah pola test dikirimkan ke tiap-tiap chip, lalu respon dari chip akan dimonitor dan dibandingkan dengan "The Right Answer".



Setelah hasil test menunjukan bahwa "Wafer" lulus, "Wafer" dipotong menjadi sebuah bagian yang disebut "Dies". Coba juragan lihat, proses yang bener-bener ribet tadi ternyata hasilnya kecil doank. Pada gambar paling kiri itu ada 6 kelompok "Wafer", pada gambar kanannya udah berapa "Wafer" tuh?!?



"Dies" yang lulus test, akan diikutkan ke tahap selanjutnya yaitu "Packaging". "Dies" yang tidak lulus, dibuang dengan percumanya.



Ini adalah gambar satu "Die", yang tadinya dipotong pada proses sebelumnya. "Die" pada gambar ini adalah "Die" dari Intel Core i7 Processor.



Lapisan bawah, "Die", dan "Heatspreader" dipasang bersama untuk membentuk "Processor". Lapisan hijau yang bawah, digunakan untuk membentuk listrik dan "Mechanical Interface" untuk Processor supaya dapat berinteraksi dengan sistem PC. "Heatspreader" adalah "Thermal Interface" dimana solusi pendinginan diterapkan, sehingga Processor dapat tetap dingin dalam beroperasi.



"Microprocessor" adalah produk terkompleks di dunia ini. Faktanya, untuk membuatnya memerlukan ratusan tahap dan yang kita uraikan sebelumnya hanyalah yang penting saja.



Selama tes terakhir untuk Processor, Processor di tes karakteristiknya, seperti penggunaan daya dan frekwensi maksimumnya.



Berdasarkan hasil test sebelumnya, Processor dikelompokan dengan Processor yang memiliki kemampuan sama. Proses ini dinamakan dengan "Binning", "Binning" ditentukan dari frekwensi maksimum Processor, kemudian tumpukan Processor dibagi dan dijual sesuai dengan spesifikasi stabilnya.



Prosessor yang sudah dikemas dan dites, pergi menuju pabrik (misalnya dipake Toshiba buat laptopnya) atau dijual eceran (misalnya di toko komputer).




THANKS VERY MUCH FOR INTEL AND AMD






Sedangkan ini adalah Video buatan AMD tentang pembuatan Processor :

http://www.globalfoundries.com/multimedia/video/from_sand_to_chip



Thursday, July 9, 2009

Mimpi Michael Jackson Yang Belum Selesai

Oleh Anand Krishna


Anand Krishna, http://www.aumkar.org/ind/

Pernyataan saya mengenai Michael Jackson di status Facebook saya mengejutkan banyak orang, terutama saat saya mengajak mereka untuk berdoa baginya. Dalam beberapa menit, lusinan teman mengomentari status saya itu, sebagian besar dari mereka ialah para penggemar. Pesan yang lebih personal dikirimkan ke kotak surat saya atau di-email langsung, dan ada juga pesan dari teman saya yang menyebalkan: “Apa yang telah kamu dapatkan dengan melakukan sesuatu untuk Michael Jackson, pelaku pelecehan seksual terhadap anak, blah, blah, blah?” Ini pertanyaan yang sangat penting, pertanyaan besar, sebab bisa di paraprase menjadi berbagai macam cara. Apa yang saya dapatkan bila saya berurusan denganmu? Apa yang saya peroleh bila saya berurusan dengan penerbitan koran ini? Apa yang bisa saya dapat bila saya berurusan dengan Obama?

Atau, apa yang telah saya, Anda, dapatkan dengan berurusan dengan dunia ini? Barangkali jawaban terbaiknya ialah: “Karena saya hidup di dunia ini.” Inilah poin utamanya. Fakta bahwa Anda dan saya hidup di dunia ini menghubungkan kita dengan warga dunia lainnya.

Saya ingat sebuah puisi dari Saadi, seorang mistikus Sufi besar: “Umat manusia ialah anggota dari keseluruhan, dalam sebuah penciptaan dari satu esensi dan jiwa yang sama. Jika salah seorang anggota dirundung kesakitan, anggota lainnya juga akan merasakannya. Jika Anda tak bersimpati terhadap penderitaan sesama, nama manusia tak pantas bagimu.”

Tapi kesakitan manusia dan penderitaan tak bisa menghubungkan diriku dengan sesama manusia, jika saya tak memiliki semacam “perasaan” terhadap mereka. Jika saya memiliki ikatan emosional dengan anggota keluarga saya, maka saya bisa dengan mudah merasakan kesakitan mereka. Tapi, saya bisa jadi tak mempunyai ikatan semacam itu denganmu, oleh sebab itu saya tak bisa merasakan hal seperti itu terhadap dirimu, kesakitanmu dan penderitaanmu.

Tidak begitu dengan Michael Jackson, ia bisa merasakan kesakitan umat manusia. Ia mengumpulakan dana dan mendonasikan jutaan dolar untuk upaya-upaya kemanusiaan. Ia tidak memaksa orang lain untuk melakukan apa yang ia lakukan. Banyak orang yang lebih kaya darinya tak melakukan apapun untuk meringankan penderitaan sesama.

Michael Jackson berbeda dari mereka karena “perasaannya”. Kita bisa tetap mendengar gema rasa kasih sayangnya lewat lagu dan tulisannya, seperti kutipan bait lagu dari albumnya yang berjudul “Dangerous”.

“Kesadaran mengungkapkan dirinya lewat ciptaan. Dunia tempat kita hidup ini ialah tarian sang pencipta. Para penari datang dan pergi dalam sekejap mata tapi tariannya terus hidup.

“Dalam banyak kejadian, ketika aku menari, aku merasakan sentuhan dari sesuatu yang suci. Dalam banyak peristiawa, aku merasakan semangatku meluap dan menjadi satu dengan semua yang ada.

“Aku menjadi bintang dan rembulan. Aku menjadi kekasih dan yang dicintai. Aku menjadi pemenag dan yang ditaklukkan. Aku menjadi majikan dan bawahan. Aku menjadi penyanyi dan nyanyian. Aku menjadi yang tahu dan yang diketahui.

“Aku terus menari dan kemudian, ini menjadi tarian abadi penciptaan. Pencipta dan yang diciptakan larut dan menyatu dalam keceriaan yang begitu dalam. Aku terus menari…sampai suatu saat yang ada hanyalah…tarian.”

Perasaan semacam ini amat “dangerous (berbahaya)”, karena Anda tak dapat lagi menutup mata terhadap apa yang terjadi di sekitarmu. Michael telah berada dalam kondisi yang terbuka dan mudah diserang, bahkan sebelum mengalami perasaan semacam itu, ia telah bersenandung: “Kita ialah dunia…dunia harus keluar menjadi satu…Inilah saatnya untuk mengulurkan tangan bagi kehidupan.”

Ia merasa tersambung dengan dunia yang tak hanya kasat mata, tapi juga secara spiritual. Ia tak hanya berhenti pada pemahaman dan pengetahuan semata terhadap penderitaan orang lain; ia bahkan ingin membuat perubahan.

Dalam lagu “Man in The Mirror (Pria di Cermin)”, ia sesungguhnya melihat pantulan jiwanya sendiri dan menyanyi dengan tambahan gairah: “Jika kamu mau membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik, lihatlah ke dalam dirimu, dan kemudiaan buatlah perubahan.” Ini bukan nasehat yang ia berikan kepada Anda dan diri saya, tapi kepada dirinya sendiri: “Aku akan membuat perubahan, sekali saja dalam hidupku, ini akan terasa sungguh baik, akan membuat perbedaan, akan membuatnya benar…”

Kesadaran bahwa ia menjadi “korban cinta diri yang egois” membuatnya lebih terobsesi lagi dengan gagasan untuk menyebarkan jenis cinta yang tepat, untuk menyembuhkan dirinya sendiri dan ” Heal The World (Menyembuhkan Dunia)” untuk “membuatnya tempat yang lebih baik bagimu dan bagiku”. Ia memimpikan sebuah dunia di mana “Black or White (Hitam atau Putih” tak menjadi persoalan sama sekali, semua diperlakukan secara sama.

Dalam “Earth Song (Lagu Bumi)” ia menangis bersama Ibu Bumi: ” Apa yang telah kita perbuat pada dunia, lihatlah apa yang telah kita lakukan.” Merasa frustasi dengan semua yang terjadi di sekitarnya, ia melanjutkan: “Aku sering bermimpi, aku sering melihat sekilas di balik bintang; sekarang aku tak tahu di mana kita berada, walaupun aku tahu bahwa kita telah melenceng jauh.”

Kembali ke tahun 1970-an, saya mendapat kesempatan langka bisa berjumpa dengan filsuf J. Krishnamurti (1895-1986). Ia menderita perasaan frustasi yang serupa juga. Kemudian, dalam dokumentasi yang dibuat berdasarkan kisah hidupnya, mereka yang dekat dengannya saat hari-hari terakhir hidupnya membahas rasa frustasinya.

Baik filsuf J. Krishnamurti dan artis Michael Jackson, keduanya bicara tentang perubahan, tentang kebebasan sejati dari segala keterikatan, dari cara pandang yang usang. Dan, secara indah dikatakan oleh Mahatma Gandhi, keduanya menyadari pentingnya “menjadi perubahan itu sendiri” yang ingin mereka lihat terjadi di dunia. Kendati demikian, keduanya meninggal dalam rasa frustasi, seperti dialami juga oleh sang Mahatma. Gandhi yang tak bisa menerima ide pemisahan India berdasarkan agama.

J. Krishnamurti mengungkapkan rasa frustasinya lewat karya tulis dan berdiskusi dengan orang-orang di sekitarnya. Gandhi melepaskan frustasinya dengan menarik diri dari kancah politik dan kembali ke komunitasnya di Gujarat. Michael Jackson, sang bintang, melepaskan rasa frustasinya dengan bereksperimen dengan tubuhnya. Ia mengubah badannya menjadi laboratorium.

Dari diet ketat sampai beberapa kali operasi bedah plastik dan keterlibatannya dalam “petualangan” yang kurang populer, kehidupan cinta dan seksualnya – semuanya itu bisa dilihat sebagai manifestasi keinginan dalam diri untuk berubah. Perubahan ialah keduanya, mimpinya sekaligus obsesinya. Ketika ia “merasa” telah gagal untuk membawa perubahan, atau setidaknya itu bukanlah perubahan yang ia inginkan, ia menarik diri dan menutup diri dari dunia luar. Ini kesalahan yang patut disesali. Dengan melakukan hal itu, ia menutup semua saluran untuk melepaskan semua rasa frustasinya. Dan, ia meninggal sebagai seorang yang kesepian.

Kendati demikian, seorang pria, seorang bintang sekaliber Michael Jackson terlalu besar untuk bisa meninggal dunia. Sejatinya, ia ibarat bintang yang terlalu cemerlang untuk jatuh. Ia akan bersinar terus-menerus sepanjang tahun mendatang. Warisan lagu-lagunya, mimpinya terhadap dunia yang akan datang, dan obsesinya untuk berubah akan selalu diingat oleh generasi yang akan datang. Mimpi Michael akan selalu hidup, karena mimpinya bukanlah halusinasi dari orang kesepian, mimpinya ialah vis dari semua orang yang bisa memimpikan sesuatu yang besar.

Jackson, kami juga merasakan frustasimu dan kami akan mengubahnya menjadi sumber energi untuk mewujudkan mimpimu, untuk “membuat dunia yang lebih baik untukmu dan untukku”. Saya tak akan mengucapkan selamat tinggal untukmu wahai sahabat, karena dalam mimpimu itu perjumpaan kita terus berlanjut….

Penulis ialah aktivis spiritual, pengarang 120 buku lebih.

Anand Krishna , Jakarta | Sabtu, 4 Juli 2009 | Opini

Terjemahan oleh Nunung, source: The Jakarta Post